Transformasi Digital di Kampus Merdeka

 130 total views

Tulisan ini telah dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, Jum’at 7 Februari 2020, halaman 11.

Salah satu kebijakan Kampus Merdeka yang didengungkan Mendikbud belum lama ini adalah hak belajar mahasiswa di luar program studinya. Mahasiswa boleh mengambil mata kuliah di luar prodi, perguruan tinggi (PT) dan bahkan di luar negeri. Setelah lulus diharapkan mereka akan kompeten tidak hanya di bidang ilmunya, tapi punya bonus keahlian tambahan. Ini akan menguntungkan mereka, karena nyatanya hampir tidak ada pekerjaan di dunia ini yang ditunjang keahlian tunggal.

Seorang lulusan yang menjadi guru fisika misalnya, dia perlu tahu multimedia agar dapat membuat video pembelajaran, dan harus paham Bahasa Inggris agar dapat meng-update ilmunya. Kebijakan tersebut dituangkan dalam Permendikbud no 3 tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Untuk memenuhi hak belajar tersebut, PT harus memfasilitasi mahasiswa internal maupun eksternal. Bagaimana PT menyiapkannya?

Hak Belajar

Transformasi digital (DX) bisa menjadi solusinya, paling tidak untuk menjawab persoalan PT dalam memenuhi hak belajar tersebut. DX adalah penggunaan teknologi digital secara kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan persoalan. Melalui pemanfaatan teknologi digital inilah mahasiswa dapat mengambil hak belajarnya dari luar kampus. Materi pembelajaran dikemas dalam format yang menarik dan mudah dipelajari. Interaksi dosen mahasiswa dilakukan dalam bentuk sinkronus dan asinkronus. Aktivitas dan evaluasi pembelajaran dilaksanakan secara online. Kesemuanya itu diramu menjadi e-learning. Dengan e-learning, mahasiswa yang kuliah di suatu PT di kota tertentu dapat mengambil kuliah online dari tempat lain.

Hal pertama yang harus disiapkan PT adalah pembuatan portal e-learning yang modern. Portal ini bisa dikembangkan dengan perangkat lunak Learning Management System (LMS). Banyak pilihan LMS yang bisa dipakai, diantaranya adalah Moodle, openEdX, Canvas. Di sinilah nantinya semua mata kuliah ditata dan diisi dosen sehingga mudah dipilih dan diakses kapanpun dan dari manapun. Penyediaan koneksi internet dengan bandwidth yang cukup serta tata kelola e-learning yang baik dan akuntabel menjadi penting untuk menjamin setiap mahasiswa dapat mengakses e-learning dan mengikuti perkuliahan online dengan nyaman.

Selanjutnya, dosen harus merancang skenario pembelajaran online selama satu semester terkait tujuan pembelajaran, materi, strategi, aktivitas hingga evaluasinya. Dosen dituntut kreatif dan inovatif dalam menggunakan teknologi digital ketika mengembangkan bahan ajar dengan berbagai konten multimedia yang menarik dan mudah dicerna. Untuk itu, PT perlu memfasilitasi para dosen dalam menghasilkan konten e-learning yang baik dan engaging seperti multimedia pembelajaran interaktif, game, virtual reality, dan video pembelajaran. Fasilitasi ini berupa penyediaan Pusat Sumber Belajar berbasis digital beserta sumber daya pendukungnya.

Kualitas pembelajaran melalui e-learning apakah bisa sebaik kuliah konvensional? PT harus mempunyai tim penjaminan mutu untuk mengontrol kualitas e-learning mulai dari rancangan pembelajaran, kualitas konten, strategi, variasi aktivitas hingga evaluasinya. Di samping itu, masih ada kendala dalam implementasi e-learning di kampus. Setidaknya ada empat kendala yang sering dijumpai, yakni: resistensi terhadap teknologi baru, pendidikan karakter, pengajaran aspek motorik dan akurasi penilaian. Lambat laun kendala pertama akan hilang seiring dengan cepatnya proses transformasi digital di kampus. Dalam hal pendidikan karakter, dosen bisa menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, kerjasama dan saling menghargai melalui forum diskusi dan assignment dalam e-learning.

Aktivitas Praktikum

Kendala pengajaran aspek motorik dan penilaian bisa diatasi dengan model blended learning, yakni pembelajaran yang menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan online. Berapa persen proporsi online dan tatap muka? Memang menurut the Sloan Consortium proposi online bisa antara 30% hingga 79%, namun sejak 2015 ketika konsosium itu berubah menjadi the Online Learning Consortium persentase tersebut tidak digunakan lagi. Dosenlah yang paling tahu berapa persen porsi online-nya sesuai dengan karakteristik mata kuliah.

Dalam pembelajaran jarak jauh yang menggunakan e-learning, mahasiswa harus difasilitasi dalam melakukan aktivitas praktikum yakni dengan menyediakan unit sumber belajar jarak jauh di PT mitra atau bila mungkin disediakan berbagai sumber belajar berupa aplikasi simulasi dan virtual reality. Dengan demikian transformasi digital benar-benar membantu mahasiswa dalam mengambil hak belajarnya di kampus merdeka.

Penulis:
Prof. Herman Dwi Surjono, Ph.D.
Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *