Hybrid, Solusi Dilema PTM vs Daring

 233 total views

Meningkatnya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia belakangan ini menjadi kecemasan berbagai pihak khususnya orang tua yang putra-putrinya mulai mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM). Bahkan Kementerian Kesehatan memprediksi puncak kasus virus corona gelombang ketiga di Indonesia akan terjadi di bulan Februari 2022 ini. Padahal PTM yang diamanatkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri telah kita laksanakan. Namun kita harus tetap tenang menghadapi kejadian ini.

Apakah peserta didik akan kembali belajar secara daring. Kita tahu selama hampir dua tahun ini belajar secara daring tidak bisa sepenuhnya optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berkurangnya pengetahuan dan keterampilan (learning loss) pada peserta didik sebagai efek pembelajaran daring menjadi keprihatinan kita semua. Lantas bagaimana menyikapi dilema antara PTM dan pembelajaran daring ini. Salah satu solusinya adalah pembelajaran hybrid.

Inovasi Hybrid

Kita perlu melakukan inovasi dengan mengkombinasikan PTM dan Daring. Kedua moda ini mempunyai keunggulan dan kelemahan. Bila keunggulan dari masing-masing moda digabung, maka akan diperoleh hasil terbaik. Kombinasi ini disebut dengan hybrid. Inovasi pembelajaran hybrid bisa dilakukan pada tiga aspek, yakni: pola, sarana dan pelaksanaan.

Pola penggabungan PTM dan Daring tidak bisa secara asal misalnya 50% PTM dan 50% Daring atau PTM dan Daring selang-seling sesuka hati. Tetapi, pendidik harus jeli melihat kompetensi yang akan dicapai dalam satu semester. Tiap kompetensi tidak serta merta bisa dicapai secara optimal melalui PTM atau Daring. Ada kompetensi yang harus diajarkan melalui PTM, misalnya yang terkait dengan keterampilan, gerakan fisik, dan perilaku. Kompetensi seperti ini akan sulit dicapai bila diajarkan secara daring.

Pendidik harus melakukan analisis capaian pembelajaran yang terdiri atas beberapa kompetensi tersebut. Dari analisis tersebut dibuat pola bagaimana komposisi dan porsi antara PTM dan Daring. Beberapa pola inovasi hybrid antara lain: PTM yang difasilitasi dengan Daring, rotasi (PTM dan Daring bergantian), Flipped classroom (PTM dan Daring berbalikan), Flex (Daring yang utama dan PTM sebagai alternatif), Enriched-Virtual (Daring ditambah pengayaan dengan PTM), Bookend (Daring di awal dan akhir sedangkan PTM di tengah), Anchor (Daring di awal dan lanjut PTM), Field (Daring dan PTM sesuai kebutuhan). Porsi berapa persen Daring dan berapa persen PTM dihitung dari hasil analisis capaian pembelajaran tersebut. 

Sarana dan Pelaksanaan

Pembelajaran daring akan efektif bila didukung dengan sarana yang baik. Salah satu sarana yang vital adalah sistem pengelolaan pembelajaran atau LMS (Learning Management Systems). Melalui LMS inilah pendidik dan peserta didik melaksanakan pengajaran dan pembelajaran secara optimal dengan nyaman dan akuntabel.  Pembelajaran daring tanpa menggunakan LMS ibarat PTM tanpa ada ruang kelas/gedung, meja kursi, dan perabot lainnya. Betapa penting peran LMS dalam pembelajaran daring. Agar fitur-fitur LMS mudah digunakan dan tetap efektif mewadahi konten dan aktivitas pembelajaran diperlukan inovasi. Inovasi sistem LMS bisa berupa customizing baik secara mendalam ataupun di permukaan saja, serta penambahan plug-in.

Pelaksanaan pembelajaran hybrid juga perlu diinovasi, agar peserta didik dapat belajar dengan senang, tetap termotivasi dan tidak bosan serta tujuan pembelajaran tercapai dengan optimal. Pola yang sudah dirancang di atas harus dilaksanakan dengan benar. Pelaksanaan PTM tidak menjadi masalah karena pendidik selama ini sudah terbiasa. Dengan demikian inovasi lebih difokuskan pada pelaksanaan daring yaitu inovasi variasi aktivitas. Pendidik sebaiknya tidak hanya mengirimkan file-file materi. Tetapi juga disertai aktivitas, misalnya berupa evaluasi, diskusi, tanya jawab, quiz, dan aktivitas daring lainnya yang menarik dan menantang.

Meningkatnya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia belakangan ini menjadi kecemasan berbagai pihak khususnya orang tua yang putra-putrinya mulai mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM). Bahkan Kementerian Kesehatan memprediksi puncak kasus virus corona gelombang ketiga di Indonesia akan terjadi di bulan Februari 2022 ini. Padahal PTM yang diamanatkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri telah kita laksanakan. Namun kita harus tetap tenang menghadapi kejadian ini.

Apakah peserta didik akan kembali belajar secara daring. Kita tahu selama hampir dua tahun ini belajar secara daring tidak bisa sepenuhnya optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berkurangnya pengetahuan dan keterampilan (learning loss) pada peserta didik sebagai efek pembelajaran daring menjadi keprihatinan kita semua. Lantas bagaimana menyikapi dilema antara PTM dan pembelajaran daring ini. Salah satu solusinya adalah pembelajaran hybrid.

Inovasi Hybrid

Kita perlu melakukan inovasi dengan mengkombinasikan PTM dan Daring. Kedua moda ini mempunyai keunggulan dan kelemahan. Bila keunggulan dari masing-masing moda digabung, maka akan diperoleh hasil terbaik. Kombinasi ini disebut dengan hybrid. Inovasi pembelajaran hybrid bisa dilakukan pada tiga aspek, yakni: pola, sarana dan pelaksanaan.

Pola penggabungan PTM dan Daring tidak bisa secara asal misalnya 50% PTM dan 50% Daring atau PTM dan Daring selang-seling sesuka hati. Tetapi, pendidik harus jeli melihat kompetensi yang akan dicapai dalam satu semester. Tiap kompetensi tidak serta merta bisa dicapai secara optimal melalui PTM atau Daring. Ada kompetensi yang harus diajarkan melalui PTM, misalnya yang terkait dengan keterampilan, gerakan fisik, dan perilaku. Kompetensi seperti ini akan sulit dicapai bila diajarkan secara daring.

Pendidik harus melakukan analisis capaian pembelajaran yang terdiri atas beberapa kompetensi tersebut. Dari analisis tersebut dibuat pola bagaimana komposisi dan porsi antara PTM dan Daring. Beberapa pola inovasi hybrid antara lain: PTM yang difasilitasi dengan Daring, rotasi (PTM dan Daring bergantian), Flipped classroom (PTM dan Daring berbalikan), Flex (Daring yang utama dan PTM sebagai alternatif), Enriched-Virtual (Daring ditambah pengayaan dengan PTM), Bookend (Daring di awal dan akhir sedangkan PTM di tengah), Anchor (Daring di awal dan lanjut PTM), Field (Daring dan PTM sesuai kebutuhan). Porsi berapa persen Daring dan berapa persen PTM dihitung dari hasil analisis capaian pembelajaran tersebut. 

Sarana dan Pelaksanaan

Pembelajaran daring akan efektif bila didukung dengan sarana yang baik. Salah satu sarana yang vital adalah sistem pengelolaan pembelajaran atau LMS (Learning Management Systems). Melalui LMS inilah pendidik dan peserta didik melaksanakan pengajaran dan pembelajaran secara optimal dengan nyaman dan akuntabel.  Pembelajaran daring tanpa menggunakan LMS ibarat PTM tanpa ada ruang kelas/gedung, meja kursi, dan perabot lainnya. Betapa penting peran LMS dalam pembelajaran daring. Agar fitur-fitur LMS mudah digunakan dan tetap efektif mewadahi konten dan aktivitas pembelajaran diperlukan inovasi. Inovasi sistem LMS bisa berupa customizing baik secara mendalam ataupun di permukaan saja, serta penambahan plug-in.

Pelaksanaan pembelajaran hybrid juga perlu diinovasi, agar peserta didik dapat belajar dengan senang, tetap termotivasi dan tidak bosan serta tujuan pembelajaran tercapai dengan optimal. Pola yang sudah dirancang di atas harus dilaksanakan dengan benar. Pelaksanaan PTM tidak menjadi masalah karena pendidik selama ini sudah terbiasa. Dengan demikian inovasi lebih difokuskan pada pelaksanaan daring yaitu inovasi variasi aktivitas. Pendidik sebaiknya tidak hanya mengirimkan file-file materi. Tetapi juga disertai aktivitas, misalnya berupa evaluasi, diskusi, tanya jawab, quiz, dan aktivitas daring lainnya yang menarik dan menantang.

Keseimbangan juga penting. Pengiriman materi dan pemberian aktivitas perlu seimbang. Terlalu banyak pada salah satu kegiatan menjadikan peserta didik bosan. Pengiriman materi pembelajaran yang terlalu banyak tanpa disertai penjelasan, diskusi dan evaluasi tidaklah baik. Demikian juga bila terlalu banyak tugas tanpa penjelasan materi. Komunikasi dan presentasi secara sinkron (live) dan asinkron (tidak live) juga harus seimbang. Terlalu ekstrim ke salah satu moda akan membebani dan menyulitkan peserta didik. Di samping itu, pendidik yang terlalu banyak memilih sinkron dan mengabaikan asinkron, akan mengurangi fleksibilitas pembelajaran hybrid. Inovasi pada ketiga aspek tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran hybrid. Kedepan, pembelajaran hybrid ini tidak hanya dilaksanakan pada masa pandemi covid-19 ini, tetapi akan menjadi pilihan model pembelajaran di era new normal. Hal ini karena melalui pembelajaran hybrid kita bisa memperoleh keunggulan ganda yakni keunggulan dari PTM dan dari Daring.

Artikel ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat tanggal 7 Februari 2022 halaman 11

Leave a Reply

Your email address will not be published.